Sabtu, 09 Mei 2020

Benci.


Benci.

Hey, pagi ini aku duduk sendiri dalam dekapan embun dingin dalam kamarku. Pikiranku buntu. Aku benar-benar merasa seseorang yang kuharap dapat membuat perasaanju damai tak kunjung juga dapat kumengerti keinginannya. Dia terlalu tak mampu untuk kugapai.
Aku menginginkandia ada dalam setiap waktunya untukku, berbagi rasa untuk sekedar membagi  kisah dan bertukar keadaan. Memberikan warna-warni dalam diriku. Tapi… entahlah,  aku benar-benar tak mengerti apa yang ada dalam benaknya.
***
“Vis!”
“Iya…”
“Ka………” aku tak meneruskan ucapanku.
“Ngen!”
“Iya…”
“Sama Sya, tapi mau bagaimana?”
“Entahlah”
“Sabar ya… kita pasti bisa menjalani hidup ini sendiri-sendiri sebelum kita resmi.”
“Iya, akan aku coba!”
Ini sepenggal percakapan beberapa minggu lalu antara aku dengannya, percakapann pendek lewat telepon itu membuatku tak menentu,  melayang membayangkan wajahnya yang tersenyum, senyum yang indah.
 Hembusan angin pagi menelisik helai-helai rambutku . memutar otakku untuk membayangkan gerak-geriknya, mencari peluang untuk sekedar membuatnya mengerti, mengerti diriku yang telah menjadikan dirinya sebagai  bagian dari diriku.
“sudahlah Sya, dia tidak mungkin berubah sebegitu drastisnya, pasti ada alasan yang membuatnya berbuat begitu. Kau yang sabar ya...” ini perkataan famili jauhku ketika aku menceritakan banyak hal tentang sosoknya. Sosok kekasihku dan teman masa laluku, Vis.
***
“selamat ya Sya!” suara di seberang telepon mengagetkanku.
“Selamat untuk apa?” tanyaku bingung.
“Ah... sudahlah, kau tidak perlu pura-pura tak mengerti”
“Aku benar-benar tidak megerti”
“Kau harus menjadi perempuan yang baik untuknya Sya, dia laki-laki yang sangat kukenal. Dia lebih dari sekedar baik.”
“Ayolah... aku semakin bingung.” Aku mengeluh
“Sudahlah!” tiba-tiba telepon diputus.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sahabat, sekaligus orang yang diam-diam kusuka mengatakan hal itu. Siapa laki-laki yang dia maksud? Ada hubungan apa denganku?
Pikiranku berkecamuk, aku mondar mandir tak menentu, menatap layar ponselku mencoba menghubungi  sahabatku kembali, tapi aku mendapati usahaku sia-sia. Aku memutuskan untuk menghubungi famili jauhku lewat pesan singkat, berharap dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
Aku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur berharap resah yang tiba-tiba buncah dalam hatiku dapat sedikit saja berkurang. Ini suasana lebaran yang paling aku tunggu. Suasana yang seharusnya penuh senyum dan kebahagiaan berbalik 180 derajat, menjadikan resah sempurna menguasai diriku.
Kali ini merupakan lebaran kedua setelah kepindahanku ke rumah nenekku dua tahun yang lalu. Memendam kerinduan yang sangat kepada Ayah, Ibu, dan semua kakak-kakakku. Berharap lebaran tahun ini menjadi lebaran yang takkan pernah dapat dilupa. Tapi... semua benar-benar tak sesuai harapan. Menyebalkan.
“Sabarlah Sya, terima dia. Aku yakin orang tuamu memilihkan yang terbaik untukmu.” Rasa, sahabat sekaligus orang yang diam-diam kusuka mengirimiku sebuah pesan. Tiba-tiba saja aku ingin menjerit, bagai ditusuk puluhan tombak dari jarak dua meter sakitku membuncah. Haruskah aku menangis atas semua ini?  
Aku tak mampu ber-apa-apa, uring-uringan di atas kasur, balik kanan, balik kiri, duduk, tidur, duduk lagi dan begitulah. Resah, persaanku membuatku jatuh dalam kubangan kebosanan untuk sekedar berbicara dengan siapapun.
Perkataan famili jauhku bagai menghantam tubuhku dengan palu besi sebesar kepala, seketika aku pusing, tak ada daya untuk sekedar mengeluhkan rasa yang dengan begitu tiba-tiba menjadikanku tanpa daya.
“Aku dengar kabar kalau kamu tunangan dengan Vis, kata orang-orang sih...”
***
Aku membuka jendela kamarku, berharap angin pagi yang dingin sedikit mampu meringankan resah berkepanjangan dalam diriku. Aku sudah menutup lembaran-lembaran tentang cinta dan sakit hatiku. Aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu yang tidak akan pernah kulupa.
Aku mencoba sedikit demi sedikit mengisi hatiku dengan sosok Vis, menggantikan sahabat sekaligus orang-orang yang diam-diam kusuka. Mencoba jalani hidup ini dengan damai. Satu, dua kali menghubunginya, berharap dapat berkomunikasi dengan baik.
***
Tiga tahun berlalu begitu saja. Banyak perubahan yang terjadi dalam diriku. Aku sudah benar-benar menghapus kejadian-kejadian yang sangat menyesakkan. Menggantinya dengan senyum baru, sosok baru dan jiwa yang juga baru. Kuputuskan semuanya berakhir sampai di sini saja.
Sinar-sinar pelangi yang sempat padam kunyalakan kembali dengan semangat, detak jantungku menggebu mengabarkan banyak kisah yang mulai mengendap di kedalaman jiwa. Seseorang, sebagai sosok masa kini bagai tersenyum penuh makna. Mengajak bergabung untuk satu kata, “bersama”.
“Hai Sya, sedang apa?” sapa vis suatu ketika.
“Menulis” jawabku singkat.
“Oo...”
“Kenapa?”
“Apakah kau tak merindukanku?” aku menghentikan gerak tanganku ketika tanya itu terlontar, membalik tubuhku menghadapnya. Aku tersenyum kecil.
“Kau tak perlu menanyakan hal itu Vis”
“Kenapa?”
“Apa kau masih meragukan bahwa aku selalu benar-benar merindukanmu?”
“Tidak!” Vis menggeleng.
“Kenapa kau masih menanyakannya?”
“Sekedar memastikan saja!” Vis tersenyum.
***
Waktu berjalan terasa sangat cepat. Seperti detak jarum jam yang hanya dalam satu menit dapat mengelilingi lingkaran jam. Begitu pula diriku dalam menyimpannya, terasa baru kemaren kebersamaam ini tersa indah dan membahagiakan.
Siapa yang bisa  menyangka, detak jarum jam itu berhenti berdetak tepat di puncak perjalanan, bukan tujuan. Tujuannya masih terlalu jauh untuk dicapai. Bunga-bunga yang telah mekar menghias hariku tiba-tiba enggan untuk bergerak menarikan gerakan suka cita. Ada sesuatu yang terjadi tanpa diduga.
Hari itu aku benar-benar gelisah. Seorang Vis yang kurasa telah mampu kugapai ternyata tanpa kutahu penyebabnya telah mulai menjauh dan semakin membuatku merasa terpuruk dalam sepi yang terus saja mengkungkung diriku. Lelah, aku sudah tak punya gairah untuk mengkonsentrasikan pikiranku.
Resah, kamar berukuran 5X5 meter yang biasanya terasa sangat luas seketika menghimpit, menghentikan udara yang selalu setia berkeliaran di dekatku, gerak angin yang biasanya menampar-nampar kelambu sempurna berhenti. Semua bagai mempunyai satu remote controlyang dapat menghentikannya dalam waktu bersamaan.
Aku menghubunginya berkali-kali dalam seharian, berharap dia akan menerima panggilanku dan membalas berpuluh-puluh pesanku. Aku bertekad tak akan menyerah untuk tetap meluluhkan hatinya, memohon kepada Tuhan agar membuka hatinya dan sekali saja dia merespon pesanku. Aku sungguh tak menentu, sesak dada ini oleh perasaan yang bercampur adak tak jelas.
Senja baru saja sampai di puncak, menyisakan rasa hangat di kulit. Burung-burung telah siap meringkuk bersama induk mereka dalam sarang penuh kedamaian. Bayi-bayi lucu menggemaskan mulai lelap dalam dekapan hangat ibunya. Hah... malam akan dimulai.
Waktu baru saja menunjukkan pukul 16:18 ketika akumendapatinya mengirimiku sebuah pesan, aku gembira bukan kepalang membayangkan kata-kata manis yang akan aku baca seperti pesan-pesannya yang dulu, yang selalu membuatku semakin yakin bahwa dia telah menjadi bagian dari diriku.
Seketika aku termangu di tempat dudukku setelah membaca pesannya, hati ini bergemuruh. Benteng-benteng pertahanan yang kubangun mulai runtuh. Aku sempat berpikir bahwa aku akan nyata gila ketika itu. Tapi aku belum sepenuhnya mempercayai kata-katanya. Berkali-kali aku mengulang membaca pesan itu.
Ternyata, aku tak bosan-bosan untuk tidak mebalas pesanmu
Aku membalas pesan itu dengan tanda smile. Tak ada pilihan dalam pikiranku, buntu.
***
Haruskah aku menangis? Tanya itu selalu saja membersit dalam benakku, mulai menyusutkan semangat pantang menyerah yang selalu kukatakan padanya. Aku masih mempunyai satu hari untuk berusaha meluluhkan hatinya sebelum aku kembali menikmati hari-hariku bersama nenek. Aku tak akan mensia-siakan satu kesempatan ini.
Pagi baru saja berakhir, digantikan siang dengan terik matahari memanggang ubun-ubun. Aku tetap setia di dalam kamarku dengan usahaku untuk menghubunginya. Tapi apalah daya aku hanya berhak berusaha, tak ada yang dapat kulakukan selain itu.
Menangislah Sya, bukankah kau seorang perempuan yang pandai sekali menangis?
Seorang teman mengirimiku pesan
Tidak, aku sudah bosan menangis. Aku takut air mataku habis, dan nanti ketika seharusnya aku menangis bahagia aku tak dapat menangis. Aku akan menyimpan air mataku untuk kebahagiaanku nanti.
Aku membalas pesan temanku dan mengahiri kesia-siaan yang kudapatkan seharian ini.
***
Vis,
Hari ini aku bertekad menyimpan semuanya, tidak membuang. Dan hari ini juga, kau telah menbuatku membenci catatan harian yang selalu setia kutulis dalam buku. Aku benci menuliskannya karena aku tak ingin mengenal banyak hal tentang dirimu. Semua itu menyakitkan.
Vis,
Dulu aku berjanji untuk berdamai dengan masa lalu, begitu juga sekarang. Aku telah menerimamu menjadi bagian dalam diriku. Menerima perjodohan itu.
Vis,
Apakah kau tahu?
Hari ini aku benar-benar sangat benci pada diriku yang selalu resah, gelisah tak menentu membayangkan dirimu.
Vis,
Apakah kau juga tahu?
Aku semakin resah dan membenci diriku ketika satu pertanyaan muncul dengan seketika dalam benakku.
“Apakah kau mencintaiku?”
Tapi aku tak butuh jawban apapun.
Vis,
Cinta,
Tuhan menciptakannya terlalu banyak dalam diriku, ketika satu cinta kau patahkan, maka aka nada cinta lain yang akan tumbuh dan tetap setia untukmu.
Vis,
Hari ini aku memutuskan tak akan lagi memanggilmu dengan panggilan kakak, mas, atau apalah… aku sudah terlalu merasa tak ingin menyimpan banyak hal tentang dirimu. Mungkin aku salah mengartikan perhatian yang kau berikan kepadaku, dan panggilan sayang yang kerap kali kau sematkan diantara pesan-pesan yang kau kirimkan ke ponselku. Mungkin aku terlalu berlebihan. Dan saat ini aku bagai terbangun dari tidur panjang yang melenakan, bangkit dan tersadar. Kau tak dapat kujangkau, aku tak dapat menyelami kedalaman hatimu.
Aku benci diriku.
Frustasi.
Maaf dan terimakasih atas semuanya…
Buntu.

Agustus 2014



Hati-hati penipuan. Tulisan ini fiktif belaka, hanya saja penulis menyelipkan beberapa hal yang pernah terjadi dalam dirinya.

Believe.


Believe.
*Aisyah F.
Malam 10;
Oktober 2013
Selamat datang di dunia barumu dengan sejuta harum bunga yang tidak ada tandingannya. Gandenglah tangan bidadarimu dengan cinta, jangan pernah lepas. Jadikan dia yang terakhir dan takkan pernah kau lupakan. Aku akan selalu mendukungmu , seperti apapun yang ingin kau lakukan. Selamat datang dan bergabunglah! Maaf. Aku Cuma mengantarkanmu sampai disini.
Aku menghentikan gerak tanganku di atas tust keyboard, mengucek mataku yang mulai terasa pedih. Tidak, aku tidak boleh tidur, aku harus menyelesaikan tulisanku saat ini juga. Masih ada banyak hal lain yang harus aku lakukan setelah ini. Tidak peduli dengan waktu yang merangkak semakin jauh. Hah….
Dulu, kebersamaan kita memeng ada. Seperti kanak-kanak yang mengharapkan kasih seorang kakak, aku mengajakmu mengeja waktu bersama. Menapaki setiap jengkal hari yang mengarak matahari semakin panas. Kau selalu mengajariku bersabar, bersabar dan jangan mengeluh.
Kembali aku menghentikan gerak tanganku, menguap sebentar, merasakan kantuk yang mulai menyerangku. Tiba-tiba ada sepasang tangan merangkulku dari belakang, aku terkejut. Mas Alif  tersenyum kepadaku, matanya terlihat begitu berat dikuasai kantuk yang sangat. Aku tak bisa ber-apa-apa.
“Isy, kenapa belum tidur?” tanyanya kemudian
“Mas kenapa bangun?” aku balik bertanya. Mas Alif menghela nafas,
“ Mas tidak bisa tidur, dan tidak ada akan tidur sampai Isy memetikan komputer ini.” Katanya seraya menunjuk pada layar komputer di depanku. Aku segan untuk sekedar member jawaban atas perkataannya. Tapi… aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan tulisan tak jelasku ini segera.
“lebih baik mas tidur saja, Isy tidak apa-apa.” Akhirnya aku berkata.
‘Tidak!” jawabnya singkat dan dalam. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana lagi.
“Sudah mas bilang sama Isy, mas tidak akn tidur sampai Isy mematikan komputre ini dan tidur bersama mas.” Ucap mas Alif  kemudian, aku tertegun.
“Baiklah…” aku menyerah, tapi bukan berarti k\aku mengalah dengan keadaan ini, aku masih kan menyelesaikan semuanya. Hanya saja aku tak tega untuk menyakiti mas Alif, dia terlalu baik untuk menjadi korban keegoisanku. Mas Alif tersenyum, menggandeg tanganku dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Tapi aku sudah cukup mengerti dengan isyarat tubuhnya, dia bahagia karena dia telah mampu membujukku untuk tidak terus menerus menghukum diri diatas kursi malas didepan komputer.
Aisyah F.
 Malam 12;
Maret 2008
Mengeluh, itu adalah pekerjaan yang sia-sia,  begitu aku mendapatkan pelajaran penting pagi itu. Senyum berkembang dibibirmu. Kau terlihat sangat bahagia pagi itu.
“Isy, kau tahu? Dulu aku sangat ingin mengenal kamu, karena kata orang-orang kamu adalah makhluk kecil yang pemalu, bahkan sangat pemalu.”
“Hahaha…, bisa, bisa dibilang seperti itu. Tapi… yang kau tahu aku seperti ini.” Aku tertawa menanggapi ucapanmu.
“Aku serius Isy, memang aku sudah mengenalmu, tapi bagiku, kau bukan saja pemalu, tapi juga lucu, seoerti penguin, imut dan cerdas.”
“Hahaha…” kembali aku tertawa.
“ah, sudahlah!” tiba-tiba kau meraih tanganku dan menatapku lekat. Menghilangkan tawaku dan membuatku tertegun.
“Tak cukup hanya dengan mengenal, aku butuh waktu untuk memahamimu.”  Ucapmu kemudian, aku menundukkan kepalaku, aku mendapati tatapanmu yang asing. Ada sesuatu yang kau simpan dan aku tak tahu itu.
Alarm yang kupasang diponsel bututku berbunyi, menunjukkan jam 00:00 tepat tengah malam, pintu ruang kerjaku tiba-tiba terbuka. Sosok mas Alif muncul dengan secangkir the hangatditangannya. Dia tersenyum memendangku, dan karenanya aku menjadi beku, entah apa yang kurasa.
“Isy, sudah kelar nulisnya?” tanyanya sembari menyodorkan the panas kehadapanku. Aku tak segera menjawab.
“Ada apa?” dia bertanya lagi.
‘Ah, tidak apa-apa, rencananya Isy sudah mau tidur, tapi…’ aku menggantung ucapanku.
“Tapia pa?”
“Kasihan sama mas Alif kalau tehnya tidak diminum, kan tidak selalu mas Alif membuatkan Isy teh” aku mencoba mencairkan suasana walau kenyataannya aku selalu merasa gugup dan tak pernah rileks ketika berhadapan dengannya.
“Ah.. isy ada-ada saja,coba diminum tehnya, siapa tahu Isy tak berkenan.” Aku meraih cangkir dihadapanku dan menciicipinya. Hangat, begitu aku merasakan the itu mengalir di tenggorokanku.
“Bagaimana?” Tanya mas Alif, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Mas Alif terlihat menunggu, aku mendekatinya dan berbisik ditelinganya.
“Bagaimana kalau kita tidur setelah ini?” mas Alif tak menjawab, tapi senyumnya telah cukup mewakili semuanya.
Aisyah F.
Malam 18;
Adzan maghrib baru saja dikumandangkan, mas alif menawariku untuk berjamaah. Aku mengiyakan jawabannya. Lantunan ayat al-Quran yang dibacakannya terdengar sangat merdu di ttelingaku.ah.. andai aku bisa merasakan kedamaian seperti ini setiap saat, tentu aku akan merasa sangat bahagia tanpa harus terus menerus mersa dihantui masa lalu dan rasa bersalah kepada mas Alif.
‘Isy, mala mini kau istirahat saja.” Mas Alif mengawali percakapan sehabs shalat.
“Kenapa mas?” tanggapku.
“Kau semakin hari semakin tersa kurus, kau jarang sukali istirahat, aku juga sampai tak mengerti mengapa kau ters menerus hanya menghukum dirimu didepan computer, menulis sesuatu yang tidak pernah aku tahu kapan akan selesai. Kalau kau sepertin it uterus lama-lama kau akan sakit.” Mas Alif meraih tanganku, aku mengangguk pelan.
“Iya mas”
Aisyah F.
Malam 19;
Desember 2011
Kau menungguku di bawah pohon asam yang tinggi kekar, senyummu menyambut kedatanganku, aku masih ingat, pagi itu adalah pertemuan yang takkan pernahkulupa, pertemuan kesekian yang akan aku anggap bersejarah.
“pagi penguin, kau terlihat beda pagi ini.” Kau menyambutku.
‘oh ya? Apanya yang beda?”
“selamat ya… kau telah menemukan yang kau cari.” Ucapmu, bukannya kau menjawab pertanyaanku, kau malah memberiku ucapan selamat yang semakin membingungkanku.
“maksud kamu apa?” aku bertanya tak mengerti
“Hah…” kau menghela nefas. “walau kita punya kebiasaan yang sama, waktu kita habiskan bersama, bahkan, kita tak pernah bisa mengingat kapan saja kita bertegur sapa saking seringnya ,kita bertemu, tapi… ya, kitajuga butuh waktu untk mengubah semuanya,dan sekarang sudah sampai pada waktu itu” kau berhenti berucap.
“aku tak mengerti”
“sudahlah Isy,kau tak perlu berpura-pura seperti itu”
“Apanya yang pura-pura? Aku serius.”
“ya.. selamat, semoga kau bisa menjadi istri yang baik!”
“Maksudmu apa?”
“Kutitip Alif kepadamu, jangan buat dia kecewa karena mendapatimu tak menghiraukannya, aku mohon, jangalah hatinya, cukup aku saja yang merasakan sakit ini.” Kau pergi dengan kata-katamu yang terkhir, mengakhiri kisah yang telah lama kita rajut bersama, entahlah. Aku tak lagi melihatmu.”maaf, sudah saatnya kita menjalani hidup kita masing-masing.” Itulah pesan terakhir yang kau tinggalkan dalam secarik kertas untukku.
Aku menguap berkali-kali setelah mengakhiri tulisan yang tak jelas didepan komputerku, ruang kerja yang sunyi, piikirrku.
“Astaghfirullah!” aku terperanjat, terdengar suara alarm yang mas Alif pakai di kamar menghilangkan kantukku, aku segera meng-save tulisanku dan mematikan computer. Buru-buru aku keluar dari ruang kerja, mematikan lampu dan bergegas tak karuan.
“Maafkan Isy mas.” Aku berucap dengan suara bergetar, mas Alif menghampiriku.
“Hah… sudahlah Isy, mas tahu kebiasaanmu menulis sampai larut malam, mas tahu semuanya tentang kamu!”
“Isy minta maaf mas, Isy tidak bisa  menjadi istri yang baik, Isy sudah berusaha, tapi…hanya seperti ini yang Isy bisa.”
“Mas tidak butuh apa-apa dari Isy, mas yang minta maaf , mas telah merampas Isy dari dunia Isy”
“Maafkan Isy mas, Isy tak bisa apa-apa.” Aku memeluknya, merasakan setetes airmatanya membasahi rambutku. Aku menemukan sebuah ketenangan dalam pelukannya. Mas Alif terlalu baik, dia tak pantas untuk dikecewakan, maafkan Isy yang tidak bisa menjaga perasaan ini.
“Isy, mas percaya padamu, mas bisa menerima Isy apa adanya, perasaan isy, masa lalu Isy dan semuanya…, mas percaya, Isy juga bisa menerima mas apa adanya.” Aku semakin membenamkan kepalaku dalam pelukannya ketika mendengar kata-kata itu.
Aisyah F.
Believe, percaya. Kepercayaan adalah kunci menuju kebahagiaan, namun jangan pernah menyalah gunakan kepercayaan itu.
*Bianglala Lubangsa Selatan Putri, 6 Desember 2013