Benci.
Hey, pagi ini aku duduk sendiri
dalam dekapan embun dingin dalam kamarku. Pikiranku buntu. Aku benar-benar
merasa seseorang yang kuharap dapat membuat perasaanju damai tak kunjung juga
dapat kumengerti keinginannya. Dia terlalu tak mampu untuk kugapai.
Aku menginginkandia ada dalam setiap
waktunya untukku, berbagi rasa untuk sekedar membagi kisah dan bertukar
keadaan. Memberikan warna-warni dalam diriku. Tapi… entahlah, aku
benar-benar tak mengerti apa
yang ada dalam benaknya.
***
“Vis!”
“Iya…”
“Ka………” aku tak meneruskan ucapanku.
“Ngen!”
“Iya…”
“Sama Sya, tapi mau bagaimana?”
“Entahlah”
“Sabar ya… kita pasti bisa menjalani
hidup ini sendiri-sendiri sebelum kita resmi.”
“Iya, akan aku coba!”
Ini sepenggal percakapan beberapa
minggu lalu antara aku dengannya, percakapann pendek lewat telepon itu
membuatku tak menentu, melayang membayangkan wajahnya yang tersenyum,
senyum yang indah.
Hembusan angin pagi menelisik
helai-helai rambutku . memutar otakku untuk membayangkan gerak-geriknya,
mencari peluang untuk sekedar membuatnya mengerti, mengerti diriku yang telah
menjadikan dirinya sebagai bagian dari diriku.
“sudahlah Sya, dia tidak mungkin berubah sebegitu
drastisnya, pasti ada alasan yang membuatnya berbuat begitu. Kau yang sabar
ya...” ini perkataan famili jauhku ketika aku menceritakan banyak hal tentang
sosoknya. Sosok kekasihku dan teman masa laluku, Vis.
***
“selamat ya Sya!” suara di seberang telepon mengagetkanku.
“Selamat untuk apa?” tanyaku bingung.
“Ah... sudahlah, kau tidak perlu pura-pura tak mengerti”
“Aku benar-benar tidak megerti”
“Kau harus menjadi perempuan yang baik untuknya Sya, dia laki-laki yang
sangat kukenal. Dia lebih dari sekedar baik.”
“Ayolah... aku semakin bingung.” Aku mengeluh
“Sudahlah!” tiba-tiba telepon diputus.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sahabat, sekaligus orang
yang diam-diam kusuka mengatakan hal itu. Siapa laki-laki yang dia maksud? Ada
hubungan apa denganku?
Pikiranku berkecamuk, aku mondar mandir tak menentu, menatap layar ponselku
mencoba menghubungi sahabatku kembali, tapi aku mendapati usahaku
sia-sia. Aku memutuskan untuk menghubungi famili jauhku lewat pesan singkat,
berharap dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
Aku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur berharap resah yang tiba-tiba
buncah dalam hatiku dapat sedikit saja berkurang. Ini suasana lebaran yang
paling aku tunggu. Suasana yang seharusnya penuh senyum dan kebahagiaan
berbalik 180 derajat, menjadikan resah sempurna menguasai diriku.
Kali ini merupakan lebaran kedua setelah kepindahanku ke rumah nenekku dua
tahun yang lalu. Memendam kerinduan yang sangat kepada Ayah, Ibu, dan semua
kakak-kakakku. Berharap lebaran tahun ini menjadi lebaran yang takkan pernah
dapat dilupa. Tapi... semua benar-benar tak sesuai harapan. Menyebalkan.
“Sabarlah Sya, terima dia. Aku yakin orang tuamu memilihkan yang terbaik
untukmu.” Rasa, sahabat sekaligus orang yang diam-diam kusuka mengirimiku
sebuah pesan. Tiba-tiba saja aku ingin menjerit, bagai ditusuk puluhan tombak
dari jarak dua meter sakitku membuncah. Haruskah aku menangis atas semua
ini?
Aku tak mampu ber-apa-apa, uring-uringan di atas kasur, balik kanan, balik
kiri, duduk, tidur, duduk lagi dan begitulah. Resah, persaanku membuatku jatuh
dalam kubangan kebosanan untuk sekedar berbicara dengan siapapun.
Perkataan famili jauhku bagai menghantam tubuhku dengan palu besi sebesar
kepala, seketika aku pusing, tak ada daya untuk sekedar mengeluhkan rasa yang
dengan begitu tiba-tiba menjadikanku tanpa daya.
“Aku dengar kabar kalau kamu tunangan dengan Vis, kata orang-orang sih...”
***
Aku membuka jendela kamarku, berharap angin pagi yang dingin sedikit mampu
meringankan resah berkepanjangan dalam diriku. Aku sudah menutup
lembaran-lembaran tentang cinta dan sakit hatiku. Aku sudah memutuskan untuk
berdamai dengan masa lalu yang tidak akan pernah kulupa.
Aku mencoba sedikit demi sedikit mengisi hatiku dengan sosok Vis,
menggantikan sahabat sekaligus orang-orang yang diam-diam kusuka. Mencoba
jalani hidup ini dengan damai. Satu, dua kali menghubunginya, berharap dapat
berkomunikasi dengan baik.
***
Tiga tahun berlalu begitu saja. Banyak perubahan yang terjadi dalam diriku.
Aku sudah benar-benar menghapus kejadian-kejadian yang sangat menyesakkan.
Menggantinya dengan senyum baru, sosok baru dan jiwa yang juga baru. Kuputuskan
semuanya berakhir sampai di sini saja.
Sinar-sinar pelangi yang sempat padam kunyalakan kembali dengan semangat,
detak jantungku menggebu mengabarkan banyak kisah yang mulai mengendap di
kedalaman jiwa. Seseorang, sebagai sosok masa kini bagai tersenyum penuh makna.
Mengajak bergabung untuk satu kata, “bersama”.
“Hai Sya, sedang apa?” sapa vis suatu ketika.
“Menulis” jawabku singkat.
“Oo...”
“Kenapa?”
“Apakah kau tak merindukanku?” aku menghentikan gerak tanganku ketika tanya
itu terlontar, membalik tubuhku menghadapnya. Aku tersenyum kecil.
“Kau tak perlu menanyakan hal itu Vis”
“Kenapa?”
“Apa kau masih meragukan bahwa aku selalu benar-benar merindukanmu?”
“Tidak!” Vis menggeleng.
“Kenapa kau masih menanyakannya?”
“Sekedar memastikan saja!” Vis tersenyum.
***
Waktu berjalan terasa sangat cepat. Seperti detak jarum jam yang hanya
dalam satu menit dapat mengelilingi lingkaran jam. Begitu pula diriku dalam
menyimpannya, terasa baru kemaren kebersamaam ini tersa indah dan
membahagiakan.
Siapa yang bisa menyangka, detak jarum jam itu berhenti berdetak
tepat di puncak perjalanan, bukan tujuan. Tujuannya masih terlalu jauh untuk
dicapai. Bunga-bunga yang telah mekar menghias hariku tiba-tiba enggan untuk
bergerak menarikan gerakan suka cita. Ada sesuatu yang terjadi tanpa diduga.
Hari itu aku benar-benar gelisah. Seorang Vis yang kurasa telah mampu
kugapai ternyata tanpa kutahu penyebabnya telah mulai menjauh dan semakin
membuatku merasa terpuruk dalam sepi yang terus saja mengkungkung diriku.
Lelah, aku sudah tak punya gairah untuk mengkonsentrasikan pikiranku.
Resah, kamar berukuran 5X5 meter yang biasanya terasa sangat luas seketika
menghimpit, menghentikan udara yang selalu setia berkeliaran di dekatku, gerak
angin yang biasanya menampar-nampar kelambu sempurna berhenti. Semua bagai
mempunyai satu remote controlyang dapat menghentikannya dalam waktu
bersamaan.
Aku menghubunginya berkali-kali dalam seharian, berharap dia akan menerima
panggilanku dan membalas berpuluh-puluh pesanku. Aku bertekad tak akan menyerah
untuk tetap meluluhkan hatinya, memohon kepada Tuhan agar membuka hatinya dan
sekali saja dia merespon pesanku. Aku sungguh tak menentu, sesak dada ini oleh
perasaan yang bercampur adak tak jelas.
Senja baru saja sampai di puncak, menyisakan rasa hangat di kulit.
Burung-burung telah siap meringkuk bersama induk mereka dalam sarang penuh
kedamaian. Bayi-bayi lucu menggemaskan mulai lelap dalam dekapan hangat ibunya.
Hah... malam akan dimulai.
Waktu baru saja menunjukkan pukul 16:18 ketika akumendapatinya mengirimiku
sebuah pesan, aku gembira bukan kepalang membayangkan kata-kata manis yang akan
aku baca seperti pesan-pesannya yang dulu, yang selalu membuatku semakin yakin
bahwa dia telah menjadi bagian dari diriku.
Seketika aku termangu di tempat dudukku setelah membaca pesannya, hati ini
bergemuruh. Benteng-benteng pertahanan yang kubangun mulai runtuh. Aku sempat
berpikir bahwa aku akan nyata gila ketika itu. Tapi aku belum sepenuhnya
mempercayai kata-katanya. Berkali-kali aku mengulang membaca pesan itu.
Ternyata, aku tak bosan-bosan untuk tidak mebalas pesanmu
Aku membalas pesan itu dengan tanda smile. Tak ada pilihan dalam pikiranku,
buntu.
***
Haruskah aku menangis? Tanya itu
selalu saja membersit dalam benakku, mulai menyusutkan semangat pantang
menyerah yang selalu kukatakan padanya. Aku masih mempunyai satu hari untuk
berusaha meluluhkan hatinya sebelum aku kembali menikmati hari-hariku bersama
nenek. Aku tak akan mensia-siakan satu kesempatan ini.
Pagi baru saja berakhir, digantikan
siang dengan terik matahari memanggang ubun-ubun. Aku tetap setia di dalam
kamarku dengan usahaku untuk menghubunginya. Tapi apalah daya aku hanya berhak
berusaha, tak ada yang dapat kulakukan selain itu.
Menangislah Sya, bukankah kau
seorang perempuan yang pandai sekali menangis?
Seorang teman mengirimiku pesan
Tidak, aku sudah bosan menangis. Aku
takut air mataku habis, dan nanti ketika seharusnya aku menangis bahagia aku
tak dapat menangis. Aku akan menyimpan air mataku untuk kebahagiaanku nanti.
Aku membalas pesan temanku dan
mengahiri kesia-siaan yang kudapatkan seharian ini.
***
Vis,
Hari ini aku bertekad menyimpan
semuanya, tidak membuang. Dan hari ini juga, kau telah menbuatku membenci
catatan harian yang selalu setia kutulis dalam buku. Aku benci menuliskannya
karena aku tak ingin mengenal banyak hal tentang dirimu. Semua itu menyakitkan.
Vis,
Dulu aku berjanji untuk berdamai
dengan masa lalu, begitu juga sekarang. Aku telah menerimamu menjadi bagian
dalam diriku. Menerima perjodohan itu.
Vis,
Apakah kau tahu?
Hari ini aku benar-benar sangat
benci pada diriku yang selalu resah, gelisah tak menentu membayangkan dirimu.
Vis,
Apakah kau juga tahu?
Aku semakin resah dan membenci
diriku ketika satu pertanyaan muncul dengan seketika dalam benakku.
“Apakah kau mencintaiku?”
Tapi aku tak butuh jawban apapun.
Vis,
Cinta,
Tuhan menciptakannya terlalu banyak
dalam diriku, ketika satu cinta kau patahkan, maka aka nada cinta lain yang
akan tumbuh dan tetap setia untukmu.
Vis,
Hari ini aku memutuskan tak akan
lagi memanggilmu dengan panggilan kakak, mas, atau apalah… aku sudah terlalu
merasa tak ingin menyimpan banyak hal tentang dirimu. Mungkin aku salah
mengartikan perhatian yang kau berikan kepadaku, dan panggilan sayang yang
kerap kali kau sematkan diantara pesan-pesan yang kau kirimkan ke ponselku.
Mungkin aku terlalu berlebihan. Dan saat ini aku bagai terbangun dari tidur
panjang yang melenakan, bangkit dan tersadar. Kau tak dapat kujangkau, aku tak
dapat menyelami kedalaman hatimu.
Aku benci diriku.
Frustasi.
Maaf dan terimakasih atas semuanya…
Buntu.
Agustus 2014
Hati-hati penipuan. Tulisan ini
fiktif belaka, hanya saja penulis menyelipkan beberapa hal yang pernah terjadi
dalam dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar