Sabtu, 09 Mei 2020

Bayang-BAyang


BAYANG 


Ini kali  pertama aku menulis untukmu, kisah yang telah kita lalui dengan  pertemuan     yang selalu tanpa sengaja. Ada banyak hal yang ingin aku katakan, aku benar-benar ingin mengatakannya kepadamu, dengan segala kejujuran yang ada, dengan keadaan yang benar-benar sadar juga nyata. Aku sangat ingin mengatakannya kepadamu.  Hanya kepadamu.
Kemarin hujan itu telah mencipta bayangmu dalam rintik yang semakin lama semakin menggenang di halaman rumahku. Bisa kau tebak , aku kala itu tengah duduk sendiri  di teras depan menikmati kesejukan dan dinginnya hujan, merasai kenikmatan teh hangat yang selalu setia menemaniku. Ada setumpuk buku yang tidak akan pernah lupa hadir didekatku. Aku tidak akan pernah merelakan kebiasaan  kala hujan turun terjamah oleh kesibukan lain. Aku harus menikmatinya.
Kau benar-benar ada di antara riak hujan itu, tersenyum seperti mengajakku untuk merasai hujan dengan seluruh tubuhku, kau mengundangku. Tapi aku tetap bertahan karena aku tidak mau meninggalkan rutinitasku.  Dan aku juga sangat benci ketika seluruh  tubuhku dan pakaianku basah kuyup karena hujan. Aku ingin menikmatinya dengan caraku sendiri. Biarlah aku menikmati sosokmu dari tempat dudukku.
Hari ini hujan kembali hadir,  tapi jangan kau sangka aku sedang duduk di teras depan rumahku menikmatinya. Aku berdiri terpaku di  halte bis yang sepi, menatapmu tanpa berkedip, tanpa tahu apa yang mesti kulakukan. Kau tak bereaksi apa-apa, hanya senyum di bibirmu yang kau kembangkan. Aku beku, namun aku sadar aku tak perlu mengutuk diriku karena rutinitas itu terbengkalai.
Isyvie
Sudah beberapa jam aku menatap buku ini, mengingat memori tentangmu yang tak pernah kumengerti mengapa mesti hadir menghias hariku. Mengapa kau tak tidur saja di tempatmu dengan damai?. Apakah dengan mengusikku kau akan merasa puas?. Aku sungguh tak mengerti apa yang ada dalam  benakmu. Tiga tahun berlalu begitu saja. Seperti lakon yang dipentaskan kembali dalam panggung memoriku. Hanya ada aku dan kamu dalam pementasan itu sebagai tokoh utama  yang serba tahu dan berkuasa. Kita memerankan lakon itu dengan sangat menghayati tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitar. Bena-benar gila.
Kau menatapku begitu tajam setelah perkenelan yang juga tanpa sengaja mengusikku. Kau memperkenalkan dirimu sebagai Aslan, sebuah nama yang langsung memutar ingatanku pada sosok singa dalam film Narnia. Laki-laki berwibawa, itu kesan yang kudapat ketika  mengenalmu.
Isyvie
Lagi-lagi hujan, tepat tengah hari dimana aku selalu membuang lelah di tempat tidur yang hangat, mengurai banyak mimpi dalam lelap. Tapi siang ini beda, aku sedang menekuri rutinitas seperti yang kau tahu, namun ada satu hal yang mesti aku beritahukan kepadamu. Aku tak sedang membaca, meleinkan menulis, menulis cerita tentang diriku yang terbelenggu bayangmu. Untukmu.
 menghela napas berkali-kali. ini kali pertama aku menulis untukmu,  sebuah surat berisikan cerita yang sanagt panjang. Tentang kita, tentang kehadiranmu yang terus saja membelengguku. Membuyarka konsentrasi yang kubangun dan kuanggap kokoh. Mengapa kau terus saja menjadi hantu?
Ah… pernah suatu kali aku benar-benar tak tahan dengan bayangmu yang terus saja hadir.  Aku meberanikan diri mengirimimu sebuah pesan singkat yang kutahu tak akan berefek apa-apa untukku. Aku menulis begini,“ aku kangen sama kamu”
Sebuah pesan gila, aku mengutuk diriku. Tapi kau tahu? Tanpa bias kuduga kau membalas pesan singkatku itu.
“aku juga, tapi mau bagaimana?”
Balasan yang membuatku tak berkutik. Aku sadar, hubungan kami belum lagi halal, terlampau banyak norma yang mengikat dan tidak memperbolehkan bertemu. Dan yang harus aku ingat, kami hidup dalam lingkungan dan keluarga yang sangat patuh pada agama.
“Biarlah,  simpan saja rindu itu,  jangan buat ia salah jalan. Kalau sudah sampai waktunya nanti, terserah mau kau apakan, asalkan kau muarakan rasa itu pada  tempatnya yang benar.” Itulah pesan susulan darimu. Dan aku…menjadi bingung karenanya. Karena tiba-tiba aku merasa sangat bodoh, tolol.
Isyvie
Akhirnya…
Di akhir suratku yang sangat kacau itu aku menulis begini untukmu:
Lan,
Kata orang aku benar-benar rindu kepadamu. Tapi aku tak tahu sejak kapan rasa itu mulai membelengguku. Memenuhkan sebagian hatiku untuk mengingatmu.mengingat wajahmu yang selalu cerah, menyunggingkan senyum setiap bertemu. Meladeni olok-olok orang tentang hubungan kita. Dan…tawamu yang renyah.
Semakin saja aku   merasa tak mengerti keadaanku. Rasa  yang semakin membuncah dalam diriku. Kadang aku benar-benar merasa tak tahan dan ingin berlari menemuimu. Mencurahkan segala rasa yang telah menyiksaku. Kadang aku juga tak perduli, walaupun aku terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, merajuk di pangkuanmu. Aku Cuma  ingin mengatakan bahwa aku benar-benar sangat merindukanmu. Sangat…
Lan,
Dipuncak rinduku ini, aku tidak akan pernah lupa, 12  Maret merupakan hari yang sangat bersejarah bagimu.
“selamat ulang tahun sayang… semoga lebih baik, maaf aku tak punya apa-apa! Aku harap dengan umurmu yang baru , kau mengerti keadaanku. Kita berbeda.”

*07 Maret 2014
Kutulis cerpen ini untukmu,  
Salam…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar