Ini kali pertama aku menulis untukmu, kisah yang telah
kita lalui dengan pertemuan yang selalu tanpa sengaja. Ada banyak hal
yang ingin aku katakan, aku benar-benar ingin mengatakannya kepadamu, dengan
segala kejujuran yang ada, dengan keadaan yang benar-benar sadar juga nyata.
Aku sangat ingin mengatakannya kepadamu.
Hanya kepadamu.
Kemarin hujan itu
telah mencipta bayangmu dalam rintik yang semakin lama semakin menggenang di
halaman rumahku. Bisa kau tebak , aku kala itu tengah duduk sendiri di teras depan menikmati kesejukan dan
dinginnya hujan, merasai kenikmatan teh hangat yang selalu setia menemaniku.
Ada setumpuk buku yang tidak akan pernah lupa hadir didekatku. Aku tidak akan
pernah merelakan kebiasaan kala hujan
turun terjamah oleh kesibukan lain. Aku harus menikmatinya.
Kau benar-benar ada di
antara riak hujan itu, tersenyum seperti mengajakku untuk merasai hujan dengan
seluruh tubuhku, kau mengundangku. Tapi aku tetap bertahan karena aku tidak mau
meninggalkan rutinitasku. Dan aku juga
sangat benci ketika seluruh tubuhku dan
pakaianku basah kuyup karena hujan. Aku ingin menikmatinya dengan caraku
sendiri. Biarlah aku menikmati sosokmu dari tempat dudukku.
Hari ini hujan kembali
hadir, tapi jangan kau sangka aku sedang
duduk di teras depan rumahku menikmatinya. Aku berdiri terpaku di halte bis yang sepi, menatapmu tanpa berkedip,
tanpa tahu apa yang mesti kulakukan. Kau tak bereaksi apa-apa, hanya senyum di
bibirmu yang kau kembangkan. Aku beku, namun aku sadar aku tak perlu mengutuk
diriku karena rutinitas itu terbengkalai.
Isyvie
Sudah beberapa jam aku
menatap buku ini, mengingat memori tentangmu yang tak pernah kumengerti mengapa
mesti hadir menghias hariku. Mengapa kau tak tidur saja di tempatmu dengan
damai?. Apakah dengan mengusikku kau akan merasa puas?. Aku sungguh tak
mengerti apa yang ada dalam benakmu.
Tiga tahun berlalu begitu saja. Seperti lakon yang dipentaskan kembali dalam
panggung memoriku. Hanya ada aku dan kamu dalam pementasan itu sebagai tokoh
utama yang serba tahu dan berkuasa. Kita
memerankan lakon itu dengan sangat menghayati tanpa peduli apapun yang terjadi
di sekitar. Bena-benar gila.
Kau menatapku begitu
tajam setelah perkenelan yang juga tanpa sengaja mengusikku. Kau memperkenalkan
dirimu sebagai Aslan, sebuah nama yang langsung memutar ingatanku pada sosok
singa dalam film Narnia. Laki-laki berwibawa, itu kesan yang kudapat
ketika mengenalmu.
Isyvie
Lagi-lagi hujan, tepat
tengah hari dimana aku selalu membuang lelah di tempat tidur yang hangat, mengurai
banyak mimpi dalam lelap. Tapi siang ini beda, aku sedang menekuri rutinitas
seperti yang kau tahu, namun ada satu hal yang mesti aku beritahukan kepadamu.
Aku tak sedang membaca, meleinkan menulis, menulis cerita tentang diriku yang
terbelenggu bayangmu. Untukmu.
menghela napas berkali-kali. ini kali pertama
aku menulis untukmu, sebuah surat
berisikan cerita yang sanagt panjang. Tentang kita, tentang kehadiranmu yang
terus saja membelengguku. Membuyarka konsentrasi yang kubangun dan kuanggap kokoh.
Mengapa kau terus saja menjadi hantu?
Ah… pernah suatu kali
aku benar-benar tak tahan dengan bayangmu yang terus saja hadir. Aku meberanikan diri mengirimimu sebuah pesan
singkat yang kutahu tak akan berefek apa-apa untukku. Aku menulis begini,“ aku kangen
sama kamu”
Sebuah pesan gila, aku mengutuk diriku. Tapi kau
tahu? Tanpa bias kuduga kau membalas pesan singkatku itu.
“aku juga, tapi mau bagaimana?”
Balasan yang membuatku
tak berkutik. Aku sadar, hubungan kami belum lagi halal, terlampau banyak norma
yang mengikat dan tidak memperbolehkan bertemu. Dan yang harus aku ingat, kami
hidup dalam lingkungan dan keluarga yang sangat patuh pada agama.
“Biarlah,
simpan saja rindu itu, jangan
buat ia salah jalan. Kalau sudah sampai waktunya nanti, terserah mau kau
apakan, asalkan kau muarakan rasa itu pada
tempatnya yang benar.” Itulah pesan susulan darimu. Dan aku…menjadi
bingung karenanya. Karena tiba-tiba aku merasa sangat bodoh, tolol.
Isyvie
Akhirnya…
Di akhir suratku yang sangat kacau itu aku menulis begini
untukmu:
Lan,
Kata orang aku benar-benar rindu kepadamu. Tapi aku tak
tahu sejak kapan rasa itu mulai membelengguku. Memenuhkan sebagian hatiku untuk
mengingatmu.mengingat wajahmu yang selalu cerah, menyunggingkan senyum setiap
bertemu. Meladeni olok-olok orang tentang hubungan kita. Dan…tawamu yang
renyah.
Semakin saja aku merasa tak mengerti keadaanku. Rasa yang semakin membuncah dalam diriku. Kadang
aku benar-benar merasa tak tahan dan ingin berlari menemuimu. Mencurahkan
segala rasa yang telah menyiksaku. Kadang aku juga tak perduli, walaupun aku
terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, merajuk di
pangkuanmu. Aku Cuma ingin mengatakan
bahwa aku benar-benar sangat merindukanmu. Sangat…
Lan,
Dipuncak rinduku ini, aku tidak akan pernah lupa, 12 Maret merupakan hari yang sangat bersejarah
bagimu.
“selamat ulang tahun sayang… semoga lebih baik, maaf aku
tak punya apa-apa! Aku harap dengan umurmu yang baru , kau mengerti keadaanku.
Kita berbeda.”
*07
Maret 2014
Kutulis
cerpen ini untukmu,
Salam…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar