Sabtu, 09 Mei 2020

Believe.


Believe.
*Aisyah F.
Malam 10;
Oktober 2013
Selamat datang di dunia barumu dengan sejuta harum bunga yang tidak ada tandingannya. Gandenglah tangan bidadarimu dengan cinta, jangan pernah lepas. Jadikan dia yang terakhir dan takkan pernah kau lupakan. Aku akan selalu mendukungmu , seperti apapun yang ingin kau lakukan. Selamat datang dan bergabunglah! Maaf. Aku Cuma mengantarkanmu sampai disini.
Aku menghentikan gerak tanganku di atas tust keyboard, mengucek mataku yang mulai terasa pedih. Tidak, aku tidak boleh tidur, aku harus menyelesaikan tulisanku saat ini juga. Masih ada banyak hal lain yang harus aku lakukan setelah ini. Tidak peduli dengan waktu yang merangkak semakin jauh. Hah….
Dulu, kebersamaan kita memeng ada. Seperti kanak-kanak yang mengharapkan kasih seorang kakak, aku mengajakmu mengeja waktu bersama. Menapaki setiap jengkal hari yang mengarak matahari semakin panas. Kau selalu mengajariku bersabar, bersabar dan jangan mengeluh.
Kembali aku menghentikan gerak tanganku, menguap sebentar, merasakan kantuk yang mulai menyerangku. Tiba-tiba ada sepasang tangan merangkulku dari belakang, aku terkejut. Mas Alif  tersenyum kepadaku, matanya terlihat begitu berat dikuasai kantuk yang sangat. Aku tak bisa ber-apa-apa.
“Isy, kenapa belum tidur?” tanyanya kemudian
“Mas kenapa bangun?” aku balik bertanya. Mas Alif menghela nafas,
“ Mas tidak bisa tidur, dan tidak ada akan tidur sampai Isy memetikan komputer ini.” Katanya seraya menunjuk pada layar komputer di depanku. Aku segan untuk sekedar member jawaban atas perkataannya. Tapi… aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan tulisan tak jelasku ini segera.
“lebih baik mas tidur saja, Isy tidak apa-apa.” Akhirnya aku berkata.
‘Tidak!” jawabnya singkat dan dalam. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana lagi.
“Sudah mas bilang sama Isy, mas tidak akn tidur sampai Isy mematikan komputre ini dan tidur bersama mas.” Ucap mas Alif  kemudian, aku tertegun.
“Baiklah…” aku menyerah, tapi bukan berarti k\aku mengalah dengan keadaan ini, aku masih kan menyelesaikan semuanya. Hanya saja aku tak tega untuk menyakiti mas Alif, dia terlalu baik untuk menjadi korban keegoisanku. Mas Alif tersenyum, menggandeg tanganku dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Tapi aku sudah cukup mengerti dengan isyarat tubuhnya, dia bahagia karena dia telah mampu membujukku untuk tidak terus menerus menghukum diri diatas kursi malas didepan komputer.
Aisyah F.
 Malam 12;
Maret 2008
Mengeluh, itu adalah pekerjaan yang sia-sia,  begitu aku mendapatkan pelajaran penting pagi itu. Senyum berkembang dibibirmu. Kau terlihat sangat bahagia pagi itu.
“Isy, kau tahu? Dulu aku sangat ingin mengenal kamu, karena kata orang-orang kamu adalah makhluk kecil yang pemalu, bahkan sangat pemalu.”
“Hahaha…, bisa, bisa dibilang seperti itu. Tapi… yang kau tahu aku seperti ini.” Aku tertawa menanggapi ucapanmu.
“Aku serius Isy, memang aku sudah mengenalmu, tapi bagiku, kau bukan saja pemalu, tapi juga lucu, seoerti penguin, imut dan cerdas.”
“Hahaha…” kembali aku tertawa.
“ah, sudahlah!” tiba-tiba kau meraih tanganku dan menatapku lekat. Menghilangkan tawaku dan membuatku tertegun.
“Tak cukup hanya dengan mengenal, aku butuh waktu untuk memahamimu.”  Ucapmu kemudian, aku menundukkan kepalaku, aku mendapati tatapanmu yang asing. Ada sesuatu yang kau simpan dan aku tak tahu itu.
Alarm yang kupasang diponsel bututku berbunyi, menunjukkan jam 00:00 tepat tengah malam, pintu ruang kerjaku tiba-tiba terbuka. Sosok mas Alif muncul dengan secangkir the hangatditangannya. Dia tersenyum memendangku, dan karenanya aku menjadi beku, entah apa yang kurasa.
“Isy, sudah kelar nulisnya?” tanyanya sembari menyodorkan the panas kehadapanku. Aku tak segera menjawab.
“Ada apa?” dia bertanya lagi.
‘Ah, tidak apa-apa, rencananya Isy sudah mau tidur, tapi…’ aku menggantung ucapanku.
“Tapia pa?”
“Kasihan sama mas Alif kalau tehnya tidak diminum, kan tidak selalu mas Alif membuatkan Isy teh” aku mencoba mencairkan suasana walau kenyataannya aku selalu merasa gugup dan tak pernah rileks ketika berhadapan dengannya.
“Ah.. isy ada-ada saja,coba diminum tehnya, siapa tahu Isy tak berkenan.” Aku meraih cangkir dihadapanku dan menciicipinya. Hangat, begitu aku merasakan the itu mengalir di tenggorokanku.
“Bagaimana?” Tanya mas Alif, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Mas Alif terlihat menunggu, aku mendekatinya dan berbisik ditelinganya.
“Bagaimana kalau kita tidur setelah ini?” mas Alif tak menjawab, tapi senyumnya telah cukup mewakili semuanya.
Aisyah F.
Malam 18;
Adzan maghrib baru saja dikumandangkan, mas alif menawariku untuk berjamaah. Aku mengiyakan jawabannya. Lantunan ayat al-Quran yang dibacakannya terdengar sangat merdu di ttelingaku.ah.. andai aku bisa merasakan kedamaian seperti ini setiap saat, tentu aku akan merasa sangat bahagia tanpa harus terus menerus mersa dihantui masa lalu dan rasa bersalah kepada mas Alif.
‘Isy, mala mini kau istirahat saja.” Mas Alif mengawali percakapan sehabs shalat.
“Kenapa mas?” tanggapku.
“Kau semakin hari semakin tersa kurus, kau jarang sukali istirahat, aku juga sampai tak mengerti mengapa kau ters menerus hanya menghukum dirimu didepan computer, menulis sesuatu yang tidak pernah aku tahu kapan akan selesai. Kalau kau sepertin it uterus lama-lama kau akan sakit.” Mas Alif meraih tanganku, aku mengangguk pelan.
“Iya mas”
Aisyah F.
Malam 19;
Desember 2011
Kau menungguku di bawah pohon asam yang tinggi kekar, senyummu menyambut kedatanganku, aku masih ingat, pagi itu adalah pertemuan yang takkan pernahkulupa, pertemuan kesekian yang akan aku anggap bersejarah.
“pagi penguin, kau terlihat beda pagi ini.” Kau menyambutku.
‘oh ya? Apanya yang beda?”
“selamat ya… kau telah menemukan yang kau cari.” Ucapmu, bukannya kau menjawab pertanyaanku, kau malah memberiku ucapan selamat yang semakin membingungkanku.
“maksud kamu apa?” aku bertanya tak mengerti
“Hah…” kau menghela nefas. “walau kita punya kebiasaan yang sama, waktu kita habiskan bersama, bahkan, kita tak pernah bisa mengingat kapan saja kita bertegur sapa saking seringnya ,kita bertemu, tapi… ya, kitajuga butuh waktu untk mengubah semuanya,dan sekarang sudah sampai pada waktu itu” kau berhenti berucap.
“aku tak mengerti”
“sudahlah Isy,kau tak perlu berpura-pura seperti itu”
“Apanya yang pura-pura? Aku serius.”
“ya.. selamat, semoga kau bisa menjadi istri yang baik!”
“Maksudmu apa?”
“Kutitip Alif kepadamu, jangan buat dia kecewa karena mendapatimu tak menghiraukannya, aku mohon, jangalah hatinya, cukup aku saja yang merasakan sakit ini.” Kau pergi dengan kata-katamu yang terkhir, mengakhiri kisah yang telah lama kita rajut bersama, entahlah. Aku tak lagi melihatmu.”maaf, sudah saatnya kita menjalani hidup kita masing-masing.” Itulah pesan terakhir yang kau tinggalkan dalam secarik kertas untukku.
Aku menguap berkali-kali setelah mengakhiri tulisan yang tak jelas didepan komputerku, ruang kerja yang sunyi, piikirrku.
“Astaghfirullah!” aku terperanjat, terdengar suara alarm yang mas Alif pakai di kamar menghilangkan kantukku, aku segera meng-save tulisanku dan mematikan computer. Buru-buru aku keluar dari ruang kerja, mematikan lampu dan bergegas tak karuan.
“Maafkan Isy mas.” Aku berucap dengan suara bergetar, mas Alif menghampiriku.
“Hah… sudahlah Isy, mas tahu kebiasaanmu menulis sampai larut malam, mas tahu semuanya tentang kamu!”
“Isy minta maaf mas, Isy tidak bisa  menjadi istri yang baik, Isy sudah berusaha, tapi…hanya seperti ini yang Isy bisa.”
“Mas tidak butuh apa-apa dari Isy, mas yang minta maaf , mas telah merampas Isy dari dunia Isy”
“Maafkan Isy mas, Isy tak bisa apa-apa.” Aku memeluknya, merasakan setetes airmatanya membasahi rambutku. Aku menemukan sebuah ketenangan dalam pelukannya. Mas Alif terlalu baik, dia tak pantas untuk dikecewakan, maafkan Isy yang tidak bisa menjaga perasaan ini.
“Isy, mas percaya padamu, mas bisa menerima Isy apa adanya, perasaan isy, masa lalu Isy dan semuanya…, mas percaya, Isy juga bisa menerima mas apa adanya.” Aku semakin membenamkan kepalaku dalam pelukannya ketika mendengar kata-kata itu.
Aisyah F.
Believe, percaya. Kepercayaan adalah kunci menuju kebahagiaan, namun jangan pernah menyalah gunakan kepercayaan itu.
*Bianglala Lubangsa Selatan Putri, 6 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar