Believe.
*Aisyah
F.
Malam 10;
Oktober 2013
Selamat datang di dunia barumu
dengan sejuta harum bunga yang tidak ada tandingannya. Gandenglah tangan
bidadarimu dengan cinta, jangan pernah lepas. Jadikan dia yang terakhir dan
takkan pernah kau lupakan. Aku akan selalu mendukungmu , seperti apapun yang
ingin kau lakukan. Selamat datang dan bergabunglah! Maaf. Aku Cuma
mengantarkanmu sampai disini.
Aku
menghentikan gerak tanganku di atas tust keyboard, mengucek mataku yang mulai
terasa pedih. Tidak, aku tidak boleh tidur, aku harus menyelesaikan tulisanku
saat ini juga. Masih ada banyak hal lain yang harus aku lakukan setelah ini.
Tidak peduli dengan waktu yang merangkak semakin jauh. Hah….
Dulu, kebersamaan kita memeng ada.
Seperti kanak-kanak yang mengharapkan kasih seorang kakak, aku mengajakmu
mengeja waktu bersama. Menapaki setiap jengkal hari yang mengarak matahari
semakin panas. Kau selalu mengajariku bersabar, bersabar dan jangan mengeluh.
Kembali
aku menghentikan gerak tanganku, menguap sebentar, merasakan kantuk yang mulai
menyerangku. Tiba-tiba ada sepasang tangan merangkulku dari belakang, aku
terkejut. Mas Alif tersenyum kepadaku,
matanya terlihat begitu berat dikuasai kantuk yang sangat. Aku tak bisa
ber-apa-apa.
“Isy,
kenapa belum tidur?” tanyanya kemudian
“Mas
kenapa bangun?” aku balik bertanya. Mas Alif menghela nafas,
“ Mas
tidak bisa tidur, dan tidak ada akan tidur sampai Isy memetikan komputer ini.”
Katanya seraya menunjuk pada layar komputer di depanku. Aku segan untuk sekedar
member jawaban atas perkataannya. Tapi… aku masih butuh waktu untuk
menyelesaikan tulisan tak jelasku ini segera.
“lebih
baik mas tidur saja, Isy tidak apa-apa.” Akhirnya aku berkata.
‘Tidak!”
jawabnya singkat dan dalam. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana lagi.
“Sudah
mas bilang sama Isy, mas tidak akn tidur sampai Isy mematikan komputre ini dan
tidur bersama mas.” Ucap mas Alif
kemudian, aku tertegun.
“Baiklah…”
aku menyerah, tapi bukan berarti k\aku mengalah dengan keadaan ini, aku masih
kan menyelesaikan semuanya. Hanya saja aku tak tega untuk menyakiti mas Alif,
dia terlalu baik untuk menjadi korban keegoisanku. Mas Alif tersenyum,
menggandeg tanganku dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Tapi aku sudah
cukup mengerti dengan isyarat tubuhnya, dia bahagia karena dia telah mampu
membujukku untuk tidak terus menerus menghukum diri diatas kursi malas didepan
komputer.
Aisyah F.
Malam 12;
Maret 2008
Mengeluh, itu adalah pekerjaan yang
sia-sia, begitu aku mendapatkan
pelajaran penting pagi itu. Senyum berkembang dibibirmu. Kau terlihat sangat
bahagia pagi itu.
“Isy, kau tahu? Dulu aku sangat
ingin mengenal kamu, karena kata orang-orang kamu adalah makhluk kecil yang
pemalu, bahkan sangat pemalu.”
“Hahaha…, bisa, bisa dibilang
seperti itu. Tapi… yang kau tahu aku seperti ini.” Aku tertawa menanggapi
ucapanmu.
“Aku serius
Isy, memang aku sudah mengenalmu, tapi bagiku, kau bukan saja pemalu, tapi juga
lucu, seoerti penguin, imut dan cerdas.”
“Hahaha…” kembali aku tertawa.
“ah, sudahlah!” tiba-tiba kau meraih
tanganku dan menatapku lekat. Menghilangkan tawaku dan membuatku tertegun.
“Tak cukup hanya dengan mengenal,
aku butuh waktu untuk memahamimu.”
Ucapmu kemudian, aku menundukkan kepalaku, aku mendapati tatapanmu yang
asing. Ada sesuatu yang kau simpan dan aku tak tahu itu.
Alarm
yang kupasang diponsel bututku berbunyi, menunjukkan jam 00:00 tepat tengah
malam, pintu ruang kerjaku tiba-tiba terbuka. Sosok mas Alif muncul dengan
secangkir the hangatditangannya. Dia tersenyum memendangku, dan karenanya aku
menjadi beku, entah apa yang kurasa.
“Isy,
sudah kelar nulisnya?” tanyanya sembari menyodorkan the panas kehadapanku. Aku
tak segera menjawab.
“Ada
apa?” dia bertanya lagi.
‘Ah,
tidak apa-apa, rencananya Isy sudah mau tidur, tapi…’ aku menggantung ucapanku.
“Tapia
pa?”
“Kasihan
sama mas Alif kalau tehnya tidak diminum, kan tidak selalu mas Alif membuatkan
Isy teh” aku mencoba mencairkan suasana walau kenyataannya aku selalu merasa
gugup dan tak pernah rileks ketika berhadapan dengannya.
“Ah..
isy ada-ada saja,coba diminum tehnya, siapa tahu Isy tak berkenan.” Aku meraih
cangkir dihadapanku dan menciicipinya. Hangat, begitu aku merasakan the itu
mengalir di tenggorokanku.
“Bagaimana?”
Tanya mas Alif, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Mas Alif terlihat
menunggu, aku mendekatinya dan berbisik ditelinganya.
“Bagaimana
kalau kita tidur setelah ini?” mas Alif tak menjawab, tapi senyumnya telah
cukup mewakili semuanya.
Aisyah F.
Malam
18;
Adzan
maghrib baru saja dikumandangkan, mas alif menawariku untuk berjamaah. Aku
mengiyakan jawabannya. Lantunan ayat al-Quran yang dibacakannya terdengar
sangat merdu di ttelingaku.ah.. andai aku bisa merasakan kedamaian seperti ini
setiap saat, tentu aku akan merasa sangat bahagia tanpa harus terus menerus
mersa dihantui masa lalu dan rasa bersalah kepada mas Alif.
‘Isy,
mala mini kau istirahat saja.” Mas Alif mengawali percakapan sehabs shalat.
“Kenapa
mas?” tanggapku.
“Kau
semakin hari semakin tersa kurus, kau jarang sukali istirahat, aku juga sampai
tak mengerti mengapa kau ters menerus hanya menghukum dirimu didepan computer,
menulis sesuatu yang tidak pernah aku tahu kapan akan selesai. Kalau kau
sepertin it uterus lama-lama kau akan sakit.” Mas Alif meraih tanganku, aku
mengangguk pelan.
“Iya
mas”
Aisyah F.
Malam 19;
Desember 2011
Kau menungguku
di bawah pohon asam yang tinggi kekar, senyummu menyambut kedatanganku, aku
masih ingat, pagi itu adalah pertemuan yang takkan pernahkulupa, pertemuan
kesekian yang akan aku anggap bersejarah.
“pagi penguin,
kau terlihat beda pagi ini.” Kau menyambutku.
‘oh ya? Apanya
yang beda?”
“selamat ya…
kau telah menemukan yang kau cari.” Ucapmu, bukannya kau menjawab pertanyaanku,
kau malah memberiku ucapan selamat yang semakin membingungkanku.
“maksud kamu
apa?” aku bertanya tak mengerti
“Hah…” kau
menghela nefas. “walau kita punya kebiasaan yang sama, waktu kita habiskan
bersama, bahkan, kita tak pernah bisa mengingat kapan saja kita bertegur sapa
saking seringnya ,kita bertemu, tapi… ya, kitajuga butuh waktu untk mengubah
semuanya,dan sekarang sudah sampai pada waktu itu” kau berhenti berucap.
“aku tak
mengerti”
“sudahlah
Isy,kau tak perlu berpura-pura seperti itu”
“Apanya yang
pura-pura? Aku serius.”
“ya.. selamat,
semoga kau bisa menjadi istri yang baik!”
“Maksudmu apa?”
“Kutitip Alif
kepadamu, jangan buat dia kecewa karena mendapatimu tak menghiraukannya, aku
mohon, jangalah hatinya, cukup aku saja yang merasakan sakit ini.” Kau pergi
dengan kata-katamu yang terkhir, mengakhiri kisah yang telah lama kita rajut
bersama, entahlah. Aku tak lagi melihatmu.”maaf, sudah saatnya kita menjalani
hidup kita masing-masing.” Itulah pesan terakhir yang kau tinggalkan dalam
secarik kertas untukku.
Aku
menguap berkali-kali setelah mengakhiri tulisan yang tak jelas didepan
komputerku, ruang kerja yang sunyi, piikirrku.
“Astaghfirullah!”
aku terperanjat, terdengar suara alarm yang mas Alif pakai di kamar
menghilangkan kantukku, aku segera meng-save tulisanku dan mematikan computer.
Buru-buru aku keluar dari ruang kerja, mematikan lampu dan bergegas tak karuan.
“Maafkan
Isy mas.” Aku berucap dengan suara bergetar, mas Alif menghampiriku.
“Hah…
sudahlah Isy, mas tahu kebiasaanmu menulis sampai larut malam, mas tahu
semuanya tentang kamu!”
“Isy
minta maaf mas, Isy tidak bisa menjadi
istri yang baik, Isy sudah berusaha, tapi…hanya seperti ini yang Isy bisa.”
“Mas
tidak butuh apa-apa dari Isy, mas yang minta maaf , mas telah merampas Isy dari
dunia Isy”
“Maafkan
Isy mas, Isy tak bisa apa-apa.” Aku memeluknya, merasakan setetes airmatanya
membasahi rambutku. Aku menemukan sebuah ketenangan dalam pelukannya. Mas Alif
terlalu baik, dia tak pantas untuk dikecewakan, maafkan Isy yang tidak bisa
menjaga perasaan ini.
“Isy,
mas percaya padamu, mas bisa menerima Isy apa adanya, perasaan isy, masa lalu
Isy dan semuanya…, mas percaya, Isy juga bisa menerima mas apa adanya.” Aku
semakin membenamkan kepalaku dalam pelukannya ketika mendengar kata-kata itu.
Aisyah F.
Believe,
percaya. Kepercayaan adalah kunci menuju kebahagiaan, namun jangan pernah
menyalah gunakan kepercayaan itu.
*Bianglala Lubangsa
Selatan Putri, 6 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar